candi badut
Candi Badut Malang

Asal Usul Candi Badut Malang

Diposting pada

Destinasi wisata Malang yang satu ini sangat unik. Bagaimana tidak, lokasinya berada di tengah-tengah pemukiman penduduk, harus melalui gang kecil yang berbeda jauh dari lokasi situs peninggalan kerajaan pada umumnya. Candi Badut ini tepatnya berada di desa Karang Besuki, Malang. Meski begitu, luas arealnya cukup melegakan, yakni sekitar 2800m2. Candi ini dapat ditempuh dalam waktu tidak sampai 20 menit dari arah kota. Pengunjung tidak dikenakan biaya tiket masuk secara spesifik namun dapat memberikan secara sukarela.

Candi Badut diyakini sebagai salah satu candi tertua di Nusantara. Menurut catatan sejarah, diperkirakan dibangun oleh Kerajaan Kanjuruhan yang kala itu memiliki pusat pemerintahan di kawasan yang saat ini dikenal sebagai daerah Dinoyo. Namun, asal usulnya sendiri masih sering diperdebatkan karena belum adanya bukti konkrit yang mendukung bahwa candi tersebut merupakan aset dari Kerajaan Kanjuruhan dan dibangun atas perintah Raja Gajayana. Namun dapat dipastikan bahwa candi itu merupakan tempat penyembahan Hindu dengan Mahaguru Syiwa sebagai obyek pemujaan utama.

Candi yang memiliki nama lain Candi Liswa ini ditemukan oleh Maureen Brecher, seorang pegawai VOC yang bertugas di Malang sekitar tahun 1921. Kala itu, candi hanya berupa reruntuhan serta gundukan yang menyedihkan. Ia kemudian melapor kepada pemerintah Hindia-Belanda sehingga proses pemugaran candi dimulai. Sayangnya, kondisi candi sudah terlalu memprihatinkan, sehingga tidak dapat direkonstruksi seperti semula. Hanya dapat dikembalikan bagian kakinya saja. Namun dari pemugaran tersebutlah dapat diketahui obyek pemujaan candi tersebut serta strukturnya yang menyerupai candi Dieng di Jawa Tengah.

Pada tahun 1925-1926 dilakukan upaya pemugaran kembali, namun tidak berhasil sehingga menyisakan bentuk candi seperti apa adanya saat ini. Perihal penamaan candi sendiri, tidak ada yang tahu mengapa disebut sebagai Candi Badut, padahal struktur bangunannya sama sekali tidak menyerupai badut. Hal tersebut juga sering menjadi pertanyaan di benak wisatawan, namun tetap berakhir sebagai pertanyaan yang tidak terjawab. Sayangnya, tempat wisata edukatif ini belum tereksplorasi dengan baik sehingga dari segi fasilitas yang tersedia pun sangat kurang dan membutuhkan perhatian lebih pemerintah.

Baca Juga: Kebun Teh Wonosari Malang